Kami ucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada para pengunjung setia Blog ini. Semoga Anda semua selalu dilimpahkan rezeki oleh Allah SWT, AAmiin.

Kamis, 05 Juli 2012

Cara Menjadi Guru Yang Baik

Sebagian anak kecil ketika ditanya tentang cita-cita mereka kelak, jawaban mereka beraneka ragam, ada yang menjawab ingin menjadi guru, ada juga yang ingin menjadi pilot, dokter, polisi, astronot dan lainnya. Tentu saja cita-cita mereka sesuai dengan apa yang pernah mereka pikirkan sebelumnya, entah berpikir dengan imajinasi mereka atau mereka memang pernah melihat secara langsung dalam kenyataan hidup sesuai dengan kemampuan mereka berpikir.
            Sengaja saya sebutkan guru paling pertama, karena semua pekerjaan, semua cita-cita, semua profesi tentunya tidak lepas dari peran seorang guru. Tidak bisa dipungkiri seorang Pilot, dokter, polisi, astronot sendiri tidak akan mungkin bisa menjadi seorang  yang berhasil seperti itu tanpa peran guru, bahkan seorang guru pun juga tak lepas dari peran penting dari guru pula. Mengapa bisa begitu ?

Definisi Guru

            Pertama yang harus kita tekankan terlebih dahulu adalah definisi/arti dari guru itu sendiri. Apakah guru itu seseorang yang mengajari kita matematika, bahasa Indonesia, IPS atau IPA ? jawabannya “itu bagian dari tugas mereka, namun itu bukan definisi guru”. Lalu apa?
           Guru adalah seorang “pendidik”, pendidik adalah orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing (Ramayulis,1982:42) “coba spesifikasikan lagi tentang seorang pendidik!”, baiklah, pendidik tidak sama dengan pengajar karena mengajar adalah bagian dari tugas pendidik, seorang pengajar hanya melakukan proses pemberian materi pelajaran atau dengan redaksi kata lain “melakukan transfer ilmu” kepada murid-muridnya dan indikator keberhasilan tertinggi (prestasi) seorang pengajar adalah ketika orang yang diajari (murid) paham betul dengan materi yang telah diajarkannya. sedangkan pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran kepada murid saja, tetapi juga membentuk kepribadian seorang anak didik bernilai tinggi. (Ramayulis, 1998:36)

Sifat Guru Menurut Imam Al-Ghazali
           Lalu apa tugas seorang pendidik (guru), Menurut Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihyaa Ulumuddin, Guru itu harus cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya  Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia dapat menjadi contoh  dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya.

10 Sifat Khusus Guru
Pertama, Jika praktek mengajar merupakan keahlian dan profesi dari seorang guru, maka sifat terpenting yang harus dimilikinya adalah rasa kasih sayang. Sifat ini dinilai penting karena akan dapat menimbulkan rasa percaya diri dan rasa tenteram pada diri murid terhadap gurunya. Hal ini pada gilirannya dapat menciptakan situasi yang mendorong murid untuk menguasai ilmu yang diajarkan oleh seorang guru.
Kedua, karena mengajarkan ilmu merupakan kewajiban agama bagi setiap orang alim (berilmu), maka seorang guru tidak boleh menuntut upah atas jerih payahnya mengajarnya itu. Seorang guru harus meniru Rasulullah SAW. yang mengajar ilmu hanya karena Allah, sehingga dengan mengajar itu ia dapat bertaqarrub kepada Allah. Demikian pula seorang guru tidak dibenarkan minta dikasihani oleh muridnya, melainkan sebaliknya ia harus berterima kasih kepada muridnya atau memberi imbalan kepada muridnya apabila ia berhasil membina mental dan jiwa. Murid telah memberi peluang kepada guru untuk dekat pada Allah SWT. Namun hal ini bisa terjadi jika antara guru dan murid berada dalam satu tempat, ilmu yang diajarkan terbatas pada ilmu-ilmu yang sederhana, tanpa memerlukan tempat khusus, sarana dan lain sebagainya. Namun jika guru yang mengajar harus datang dari tempat yang jauh, segala sarana yang mendukung pengajaran harus diberi dengan dana yang besar, serta faktor-faktor lainnya harus diupayakan dengan dana yang tidak sedikit, maka akan sulit dilakukan kegiatan pengajaran apabila gurunya tidak diberikan imbalan kesejahteraan yang memadai. 
Ketiga, seorang guru yang baik hendaknya berfungsi juga sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar di hadapan murid-muridnya. Ia tidak boleh membiarkan muridnya mempelajari pelajaran yang lebih tinggi sebelum menguasai pelajaran yang sebelumnya. Ia juga tidak boleh membiarkan waktu berlalu tanpa peringatan kepada muridnya bahwa tujuan pengajaran itu adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT,. Dan bukan untuk mengejar pangkat, status dan hal-hal yang bersifat keduniaan. Seorang guru tidak boleh tenggelam dalam persaingan, perselisihan dan pertengkaran dengan sesama guru lainnya.
Keempat, dalam kegiatan mengajar seorang guru hendaknya menggunakan cara yang simpatik, halus dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian dan sebagainya. Dalam hubungan ini seorang guru hendaknya jangan mengekspose atau menyebarluaskan kesalahan muridnya di depan umum, karena cara itu dapat menyebabkan anak murid yang memiliki jiwa yang keras, menentang, membangkang dan memusuhi gurunya. Dan jika keadaan ini terjadi dapat menimbulkan situasi yang tidak mendukung bagi terlaksananya pengajaran yang baik.
Kelima, seorang guru yang baik juga harus tampil sebagai teladan atau panutan yang baik di hadapan murid-muridnya. Dalam hubungan ini seorang guru harus bersikap toleran dan mau menghargai keahlian orang lain. Seorang guru hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang bukan keahliannnya atau spesialisasinya. Kebiasaan seorang guru yang mencela guru ilmu fiqih dan guru ilmu fiqih mencela guru hadis dan tafsir, adalah guru yang tidak baik. (Al-Ghazali, t.th:50)
Keenam, seorang guru yang baik juga harus memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki muridnya itu. Dalam hubungan ini, Al-Ghazali menasehatkan agar guru membatasi diri dalam mengajar sesuai dengan batas kemampuan pemahaman muridnya, dan ia sepantasnya tidak memberikan pelajaran yang tidak dapat dijangkau oleh akal muridnya, karena hal itu dapat menimbulkan rasa antipati atau merusak akal muridnya. (Al-Ghazali, t.th:51)

Ketujuh, seorang guru yang baik menurut Al-Ghazali adalah guru yang di samping memahami perbedaan tingkat kemampuan dan kecerdasan muridnya, juga memahami bakat, tabiat dan kejiawaannya muridnya sesuai dengan tingkat perbedaan usianya. Kepada murid yang kemampuannya kurang, hendaknya seorang guru jangan mengajarkan hal-hal yang rumit sekalipun guru itu menguasainya. Jika hal ini tidak dilakukan oleh guru, maka dapat menimbulkan rasa kurang senang kepada guru, gelisah dan ragu-ragu.
Kedelapan, seorang guru yang baik adalah guru yang berpegang teguh kepada prinsip yang diucapkannya, serta berupaya untuk merealisasikannya sedemikian rupa. Dalam hubungan ini Al-Ghazali mengingatkan agar seorang guru jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang bertentangan dengan prinsip yang dikemukakannya. Sebaliknya jika hal itu dilakukan akan menyebabkan seorang guru kehilangan wibawanya. Ia akan menjadi sasaran penghinaan dan ejekan yang pada gilirannya akan menyebabkan ia kehilangan kemampuan dalam mengatur murid-muridnya. Ia tidak akan mampu lagi mengarahkan atau memberi petunjuk kepada murid-muridnya.
            Kesembilan, guru melakukan evaluasi (proses mengukur dan menilai) terhadap siswanya harus objektif. Tidak membedakan murid karena jabatan orang tua atau sanak famili, karena hal itu akan mengakibatkan pembicaraan miring diluar dan juga menjadi kesenjangan sosial terhadap teman-temannya yang lain. Maka dari itu, siapapun dia harus diberikan pengajaran dan pendidikan yang sama dengan punishment (hukuman) dan reward (penghargaan) yang “tepat”.
            Kesepuluh, guru rela mengakui kesalahan yang diperbuat. Guru juga manusia biasa, yang tak sempurna dan pernah salah. Ketika guru mengatakan sesuatu yang memang pada kenyataannya salah, maka guru wajib meminta maaf atas perkataannya itu dan jangan sampai guru berkeras hati mempertahankan bahwa dirinya selalu benar. Hal ini bertujuan agar sifat tawadduk dalam diri guru terus tumbuh dan tidak dicap bahwa guru adalah orang yang takabbur/tinggi hati atau sombong dengan profesi yang dilakoninya.

Kesimpulan :
           
Dari sepuluh sifat khusus yang harus ada dalam diri seorang guru, dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang guru adalah contoh dan teladan yang baik bagi murid-muridnya, ketika guru memberikan sesuatu yang baik maka baik pula anak muridnya dan sebaliknya ketika guru memberikan contoh yang buruk, kelak buruk juga akhlak murid.

Sumber :
  •  Al-Ghazali, Ihyaa Ulumuddin, Beirut : Daar al-Fikr,  Juz I, t. th.
  • Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam: Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, Cet. I, 2000.
  • Ramayulis, Didaktik Metodik, Padang : Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol, 1982.
  • Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, Cet. II, 1998. 
  • http://diaz2000.multiply.com/journal/item/2/Kriteria_Guru_Yang_Baik_Menurut_Al-Ghazali

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar