Kami ucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada para pengunjung setia Blog ini. Semoga Anda semua selalu dilimpahkan rezeki oleh Allah SWT, AAmiin.

Senin, 28 Mei 2012

Triawati Peraih Nilai UN Tertinggi SMA Tk. Nasional 2012


TAK ada yang menyangka jika Triawati Octavia, siswa kelas XII IPA 5 SMAN 2 Kuningan akan menjadi peraih nilai UN tertinggi se-Indonesia. Begitu juga dengan Tria. Remaja yang gemar salat duha dan pantang menonton televisi saat belajar itu, sama sekali tidak pernah kepikiran bisa meraih hasil fenomenal. Hasil UN yang di luar dugaannya itu membuat namanya dikenal dan dilirik petinggi daerah dan wartawan.

Selintas tidak ada yang istimewa dari diri Triawati. Jika dibandingkan dengan rekannya yang selalu keluar sebagai juara kelas, prestasi Tria tak ada apa-apanya. Pihak sekolah sendiri menganggap prestasi akademik Tria biasa-biasa saja, seperti kebanyakan siswa lainnya. Malah, tak sekalipun Tria menembus posisi tiga besar juara di kelasnya. Tak heran, jika pihak sekolah juga tidak percaya kalau Tria bisa meraih hasil UN tertinggi se-Indonesia.


Mencari rumah Triawati Octavia sendiri tergolong mudah. Letaknya di pinggir jalan raya Kuningan-Cikijing. Tria tinggal di RT 05 RW 02 Dusun Cinangsi, Desa Jagara, Kecamatan Darma. Dari pusat kota hanya memakan waktu sekitar 20 menit. Rumah remaja peraih nilai UN SMA tertinggi se-Indonesia itu terkesan bersahaja. Di rumah dua lantai bercat kuning itu, Tria tinggal bersama kedua orang tuanya, Drs Syahrul Arifin dan Hj Uhintawati AMkeb. Dua kakaknya sudah bekerja menjadi PNS di DKI Jakarta. Di kamar depannya dijadikan tempat praktik sang ibu.

Saat Radar datang ke rumahnya, sang ayah, Drs Syahrul Arifin masih mengikuti rapat di kecamatan. Syahrul sendiri tercatat sebagai pegawai Kecamatan Darma. Tria yang diantar pulang oleh beberapa guru dan wali kelasnya langsung dipeluk sang ibu, Uhintawati. Wanita berjilbab itu terlihat bangga dengan hasil spektakuler yang dicatat anak ketiganya.

Selang sepuluh menit kemudian, Syahrul datang dan langsung memeluk putri kesayangannya. Suasana haru terjadi dalam sekejap. “Saya sama sekali tak menyangka jika putri saya bisa meraih hasil yang sangat membanggakan. Apalagi selama ini prestasi di sekolahnya biasa-biasa saja. Saya awalnya hanya berharap, Tria lulus sekolah dengan hasil memuaskan, dan tak pernah terbayangkan bisa meraih nilai UN tertinggi se-Indonesia. Saya dan juga ibunya Tria benar-benar kaget begitu membaca koran Radar Cirebon yang memuat nama anak saya sebagai peraih nilai UN tertinggi di Indonesia,” papar Syahrul dengan suara terbata-bata.

Lelaki bertubuh sedang itu tahu kalau anaknya meraih nilai tertinggi se-Indonesia setelah membaca berita di Radar Cirebon. Pria yang sudah lama menjadi pelanggan Harian Umum Radar Cirebon itu awalnya tak percaya jika Tria menempati peringkat pertama. “Pagi-pagi saat berada di kantor, teman-teman bilang kalau anak saya meraih nilai tertinggi UN. Saya lalu nyari beritanya, ternyata memang benar nama anak saya tercantum. Saya masih tak percaya. Kemudian dari SMAN 2 Kuningan ngasih kabar kalau anak saya memang meraih nilai UN tertinggi. Dan itu baru saya percaya. Ini semua karunia dari Allah SWT,” papar Syahrul.

Syahrul pun lantas menceritakan cara mendidik anaknya hingga bisa meraih prestasi mengagumkan. Kepada anaknya, Syahrul dan Uhintawati bersikap tegas. Saat belajar, Tria dilarang menonton televisi atau keluar malam. Saking tegasnya, Syahrul melarang putri kesayangannya main FB. Apalagi saat pelaksanaan UN, dia dan istrinya benar-benar mengawasi putrinya belajar. Disiplin yang ketat rupanya membuahkan hasil. “Mungkin saya dan istri saya terlalu tegas terhadap anak karena sangat ingin melihat dia (Tria, red) lulus dari sekolahnya. Itu saja,” jawab Syahrul.

Selain belajar, Syahrul pun selalu meminta anaknya untuk salat duha dan salat malam hari. Sikap tegas kedua orang tuanya diakui Tria. Remaja cantik itu mengaku kalau kedua orang tuanya sangat tegas. “Papah dan mamah sangat tegas. Tapi saya mematuhinya karena ingin meraih masa depan yang gemilang. Saya hanya berusaha belajar yang baik dan tak pernah terpikirkan bisa meraih nilai ujian nasional tertinggi se-Indonesia,” ujar Tria yang memiliki obsesi menjadi dokter tersebut.

Dari sisi ekonomi, Tria sebenarnya termasuk beruntung. Keluarganya tergolong mapan. Kedua orang tuanya adalah PNS. Syahrul menjabat sebagai Kasi Kesra di Kantor Kecamatan Darma dan ibunya bekerja di Puskesmas Darma. Sebuah mobil jenis Kijang terparkir di garasi rumahnya. Meski ekonominya mapan, namun Syahrul dan Hj Uhintawati memilih hidup sederhana. Tak ada barang mewah di dalam rumahnya. Kursi di ruang tamu pun seperti kebanyakan milik warga di desanya. Bahkan, satu set kursi model lama tertata di ruang tengah keluarga harmonis tersebut.

Sementara, Wali kelas XII IPA 5 SMAN 2 Kuningan, Drs Raindra menyebutkan, sebetulnya prestasi Triawati biasa-biasa saja. Dengan kata lain, di kelasnya tidak begitu menonjol dan bukan juara kelas. Jika diklasifikasikan, putri bungsu asal Desa Jagara Kecamatan Darma itu, hanya masuk 15 besar.

Namun Raindra mengakui jika Triawati ini memiliki kelebihan. Terutama dari sisi ketekunan dan kerajinan belajar. Motivasi belajarnya tinggi serta menunjukkan sikap yang sopan dan santun. ”Mungkin karena ia merasa enjoy ketika mengerjakan soal UN. Didorong pula dengan kerajinannya beribadah seperti puasa Senin-Kamis dan salat duha,” tuturnya diamini Kepala SMAN 2 Kuningan, Drs Bambang Sri Sadono MPd, saat ditemui Radar di sekolah.

Sebagai wali kelas sekaligus guru kimia, Raindra tahu betul bagaimana keseharian Triawati. Setiap dirinya memberikan tugas, gadis kelahiran 28 Oktober 1993 tersebut selalu mengerjakannya dengan baik. Raindra pun mengaku salut atas besarnya motivasi kedua orang tuanya. ”Sewaktu UN saya sempat menanyakan kepada Triawati bagaimana dorongan orang tuanya. Ia menjawab, mamahnya rajin puasa selama UN dilangsungkan,” ujarnya.

Indra, sapaan akrabnya, menilai suasana keluarga Triawati cukup kondusif dalam mendidik putrinya. Dengan suasana tersebut, sangat berpengaruh terhadap perkembangan belajar Triawati. Beban psikologis yang ditanggung seluruh peserta UN mampu dihempaskan berkat dukungan orang tuanya.
Dari data yang diperoleh Radar, nilai enam mata pelajaran UN yang didapatkan Triawati masing-masing di atas 9. Bahkan khusus mata pelajaran kimia, gadis yang kesehariannya berjilbab itu berhasil mendapatkan nilai 10. Rata-rata nilai UN murni untuk keenam mata pelajaran tersebut mencapai 9,77. Mata pelajaran Bahasa Indonesia misalnya, Triawati memperoleh nilai 9,8. Nilai ini sama persis dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Sedangkan untuk Matematika, dia berhasil mendapatkan nilai 9,75, sama dengan pelajaran Fisika. Paling kecil peroleh nilai Biologi yakni 9,5. Sehingga jika ditotalkan menjadi 58,60.

Saat ditemui Radar, Triawati terlihat gembira namun tetap tenang. Dalam mengawali wawancaranya, siswi yang aktif di OSIS dan PMR tersebut memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT. Dia sangat berterima kasih kepada kedua orang tuanya, para guru, serta teman-temannya yang berjuang bareng ketika menghadapi UN.

Sebetulnya Tria merasa sangat kaget. Sebab dari sekian banyak temannya, terdapat begitu banyak siswa lain yang lebih pintar darinya. Bahkan, dirinya kerap belajar dari teman-temannya yang lebih pintar. ”Aku kaget pas dengar kabar itu. Kayaknya enggak mungkin,” ucapnya. Ditanya rencana selepas lulus SMA, Tria—sapaan akrabnya—sangat ingin meneruskan kuliah di UI. Fakultas yang hendak dia ambil yakni Ilmu Kesehatan Masyarakat dengan Jurusan Manajemen Rumah Sakit. Gadis kalem namun komunikatif ini bercita-cita ingin menjadi manajer rumah sakit.

Sebetulnya saat ini dirinya sudah diterima di Trisakti Fakultas Ekonomi. Namun hal itu belum diputuskan karena masih ada waktu registrasi sampai Juni mendatang. Bicara tentang kiat-kiat belajar, Tria mengaku sama dengan teman-teman lainnya. Intinya adalah berdoa dan berusaha. Kala menghadapi UN, dia mempunyai tips agar semangat belajar lebih dipacu, tidak leha-leha. ”Sebenarnya waktu mau UN, aku deg-degan, sama kaya temen-temen lainnya. Tapi alhamdulillah waktu itu bapak dan mamah saya, serta para guru yakinin aku, sehingga mampu mengurangi rasa gusar,” tutur siswi yang menilai Fisika sebagai mata pelajaran sulit tersebut.

Bagaimana saran untuk adik-adik kelas? Tria hanya mengatakan jangan terlalu banyak nonton TV, terlebih saat menghadapi UN. Justru sebaliknya mesti lebih giat lagi belajar, bila perlu ikut bimbel seperti yang dilakoninya.

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar